Sabtu, 02 Agustus 2008
Keterbatasan
Andalusia (711 - 1492 Masehi)
Sumber : http://www.pesantren.net/
Tausiyah
Akibat Suka Berbohong
Kebohongan berawal dari jiwa, lalu merembet pada lisan dan merusak perkataan. Kemudian merembet pada anggota badan dan merusak segala perbuatan. Dan akhirnya kebohongan itu menyelimuti perkataan, perbuatan, dan segala keadaan. (Imam Ibnul Qayyim)
Akibat Cinta Dunia
Sesungguhnya dunia ini hanyalah untuk dilalui dan bukan untuk diramaikan. Hal itu tentunya telah Anda ketahui dan pahami. Apa yang dicapai oleh orang-orang yang sangat cinta dunia hanyalah akan menyakitkan badan dan merusak agamanya. Jika Anda tahu akan hal itu, kemudian Anda meratapi hilangnya sesuatu yang tidak sepatutnya Anda miliki, maka kesedihan itu akan menyiksa Anda, karena kelak Anda akan mengetahui maslahat di balik kehilangan itu. Bersabarlah menerima kesedihan itu sebagai balasan kini, agar Anda selamat dari siksa yang datang kemudian. (Imam Ibnu al-Jauzy)
Al-Quran adalah Kalamullah
Al-Quran adalah kalamulah, barangsiapa mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk maka dia telah kafir. (Imam Syafi’i)
Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah. (Imam Bukhari)
Berpikir Mendalam
Barangsiapa berpikir mendalam dan seksama tentang akhir kehidupan, ia akan senantiasa waspada. Barangsiapa yang yakin akan betapa panjangnya jalan yang akan ditempuh, maka ia akan menyiapkan bekal sebaik-baiknya. Alangkah anehnya manusia yang yakin akan sesuatu, namun ia melupakannya dan betapa anehnya mereka yang mengetahui bahaya sesuatu, namun ia juga menutup mata! (Imam Ibnu al-Jauzy)
Berpijak pada as-Sunnah
Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah Saw. maka ambillah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku. (Imam Syafi’i)
Berjuang Melawan Hawa Nafsu
Sesungguhnya, apa yang disebut berjuang melawan hawa nafsu adalah laksana berjuangnya orang sakit yang cerdik. Ia bersabar untuk meminum obat meskipun enggan, karena berharap dirinya sehat. Ia mau berpahit-pahit dan memakan makanan yang sesuai dengan anjuran dokter dan tidak menuruti hawa nafsunya untuk mengkonsumsi apapun yang akan membuatnya menyesal, karena akan tidak diperbolehkan makan selamanya. (Imam Ibnu al-Jauzy)
Berinteraksi dengan al-Quran
Kenikmatan hidup di bawah naungan al-Quran tak bisa dirasakan kecuali oleh orang yang langsung menjalaninya. (asy-Syahid Sayyid Quthb)
Bekerja
Ketahuilah, keseriusan kita dalam mencari harta akan senantiasa memacu semangat, melapangkan hati, dan memotong seluruh alur keberuntungan kita pada sesama makhluk. Tiada lain hal itu disebabkan jiwa yang memiliki tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi. Syariat menggambarkan bahwa jiwa Anda memiliki hak atas Anda dan pada mata Anda pun ada hak untuk Anda. Perumpamaan perilaku orang-orang yang menempuh kehidupan tanpa harta adalah laksana anjing yang tak pernah tahu siapa yang datang ke rumah mengetuk pintu. (Imam Ibnu al-Jauzy)
Berlebihan Mencintai Wanita
Bagi saya, tak ada yang lebih cepat merusak daripada mabuk akan wanita. Oleh karena setiap kali manusia condong kepada hal-hal yang cantik, elok dan menggiurkan, maka gelegak syahwatnya melonjak melebihi batas yang wajar. Ketika itulah seseorang rawan kehilangan kendali dalam dirinya. (Imam Ibnu al-Jauzy)
Dosa yang Tersembunyi Akan Terlihat Juga
Betapa banyak manusia yang menyembunyikan apa yang tidak Allah ridhai, lalu Dia membongkarnya setelah beberapa lama. Barangkali mereka terperangkap dalam sebuah bencana yang membuat apa yang tersembunyi selama ini menjadi tersingkap di mata manusia. Semua yang terjadi seolah menjadi jawaban terhadap semua dosa yang selama ini pernah mereka lakukan. Manusia harus sadar bahwa ada Zat Yang Maha Membalas perbuatan dosa. Manusia pun harus sadar bahwa tiada berguna dinding yang ia jadikan benteng untuk bersembunyi. Ia pun harus tahu bahwa amal-amalnya tak akan sirna begitu saja laksana debu yang ditiup angin. (Imam Ibnu al-Jauzy)
Hakikat Kehidupan
Pada hakikatnya waktu yang dimiliki manusia adalah usianya dan modal dasar untuk kehidupannya yang abadi di surga yang kekal, atau modal dasar untuk kehidupannya yang sempit di dalam siksaan yang pedih. Waktu itu berlalu seperti berlalunya awan. Siapa yang menggunakan waktunya untuk menaati Allah dan melaksanakan aturan-Nya, maka itulah kehidupan dan umurnya; selain itu tidak dianggap sebagai kehidupannya. Sebaliknya, siapa yang hidup dalam waktunya seperti gaya hidup binatang ternak, menggunakan waktu dalam kelengahan, kelalaian, dan angan-angan kosong, atau sebaik-baik pemanfaatan waktunya adalah untuk tidur dan menganggur, maka kematiannya lebih baik daripada hidupnya. (Imam Ibnul Qayyim)
Hikmah Dibalik Hal-Hal yang Haram
Hal-hal yang haram memang tampak begitu manis. Akan tetapi, di balik itu semua ada celaka yang berujung pada siksaan dan hinaan di dunia dan akhirat. (Imam Ibnu al-Jauzy)
Hikmah Dibalik Musibah
Siapa yang ditimpa musibah, kemudian berusaha untuk menyingkirkannya, hendaklah ia membayangkan kembali apa arti semua itu. Bayangkanlah pahalanya dan kemungkinan diturunkannya bencana yang lebih besar. Orang seperti itu akan merasakan keuntungan dari cara pandang yang demikian. Hendaknya ia membayangkan bahwa cobaan itu akan segera hilang. Sebab, jika bukan karena besarnya cobaan, tak akan ada rasa senang dan tenang. Hendaklah ia sadar bahwa cobaan yang ia alami saat ini adalah laksana tamu yang hanya melepas kebutuhannya yang datang setiap saat. Alangkah cepatnya tamu itu berlalu. Betapa indahnya pujian-pujian yang dilantunkan di tengah-tengah pesta-pesta. Betapa terpujinya sang tuan rumah atas kedermawanannya.
Demikian pula, seorang mukmin yang ditimpa kesulitan hendaknya memperhatikan waktu, mengawasi kondisi jiwa, menjaga anggota badan, agar jangan sampai terucap dari lisan kita suatu kalimat yang tak pantas atau timbul dari dalam hati ini rasa dengki. Jika demikian halnya, maka tampaklah baginya fajar yang menyingsing menghadirkan pahala dan berlalulah malam yang mengusung bala. Tatkala matahari pahala menyingsing, ia telah sampai pada tujuan dengan selamat, melewati segala bencana dengan penuh kesabaran. (Imam Ibnu al-Jauzy)
Rahasia di Balik Sakit
Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (QS. al-Anbiyaa’: 35). Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: "Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan". (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.
Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, "Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)
Sakit akan menghapuskan dosa
Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, "Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,"Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)
Sakit akan Membawa Keselamatan dari Api Neraka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya," Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim).
Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka." (HR. Al Bazzar, shohih)
Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya
Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)
Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah
Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: "Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari." (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)
Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan." (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.
***
Tulisan: Abu Hasan PutraSumber: Buletin At-Tauhid
Ketika Allah bilang tidak……. Februari 21, 2008
Posted by spanautama in TAUSIAH.
Tiga Kisah Lima Sahabat
dakwatuna.com - "Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." (Al-Baqarah: 245)
Suatu ketika Rasulullah saw. membacakan ayat itu kepada para sahabat. Tiba-tiba Abu Dahdah r.a. berdiri. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?" Rasulullah saw. menjawab, "Ya, benar." Abu Dahdah kembali berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?" Rasulullah saw. menjawab, "Ya, benar."
"Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda," pinta Abu Dahdah r.a. tiba-tiba. Rasulullah saw. balik bertanya, "Untuk apa?" Lalu Abu Dahdah menjelaskan, "Aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pn yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah." "Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Dahdah," kata Rasulullah saw.
Abu Dahdah mengucapkan takbir, "Allahu Akbar, Allahu Akbar!" Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.
"Wahai Ummu Dahdah, wahai Ummu Dahdah! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!" teriak Abu Dahdah.
Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah saw. Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada di dalam mulut anaknya. "Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah swt. Ladang ini sudah menjadi milik Allah swt.," ujarnya kepada sang anak.
Subhanallah! Begitulah Ummu Dahdah, seorang wanita yang begitu yakin rezeki datang dari Allah swt. dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang begitu yakin akan janji Allah swt. Kalau saja para suami zaman ini punya istri seperti Ummu Dahdah, pasti mereka akan mudah saja berinfak tanpa berpikir dua kali. Kalau saja para istri zaman sekarang punya suami model Abu Dahdah, pasti mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Allah swt.
Sekarang simaklah kisah kedua ini. Suatu hari Amiril Mukminin Umar bin Khaththab r.a. dikirimi harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya. "Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut," begitu perintah Umar kepadanya.
Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubadah, ia berkata, "Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, ‘Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki’."
Abu Ubaidah berkata, "Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat." Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya. "Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!." Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.
Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar empat ratus dirham seraya berkata, "Berikan harta ini kepada Muadz bin Jabal!" Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.
Muadz memanggil hamba sahayanya. "Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!" Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis sama sekali di bagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah, lalu berkata, "Demi Allah, aku juga miskin." Muadz berkata, "Ambillah dua dirham saja."
Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham, lalu berkata, "Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!" Ternyata Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang pembantu kepada Umar. Kemudian Umar menangis dan berkata, "Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah."
Begitulah para sahabat ketika mendapat harta. Tidak sampai sehari harta itu diinfakkan dengan begitu ringannya.
Yang ini kisah ketiga. Munginkah kita bisa mencontohnya?
Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah r.a. pulang ke rumah dengan membawa uang sebanyak seratus ribu dirham. Istrinya mendapati raut wajah Thalhah begitu bersedih.
Sang istri bertanya, "Apa yang terjadi padamu, wahai suamiku?" Thalhah menjawab, "Harta yang banyak ini, aku takut jika bertemu dengan Allah, lalu aku ditanya tentang dirham ini satu per satu."
Istrinya lalu berkata, "Ini masalah yang sangat mudah. Mari kita bagi-bagikan harta ini. Bawalah harta ini dan bagikan kepada para fakir miskin yang ada di Kota Madinah."
Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu di sebuah wadah, lalu membagi-bagikan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu ia kembali ke rumah dan berkata, "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam keadaan bersih dan suci."
Subhanallah! Sungguh mereka orang-orang langit yang ringan melepas dunia.
Jumat, 01 Agustus 2008
Kupersembahkan Teruntuk Para Pejuang Yang Berjiddiyah Menjadi Kekasih Allah
Kupersembahkan Teruntuk Para Pejuang Yang Berjiddiyah Menjadi Kekasih Allah
Tuhan Sambunglah Cintaku Yang Terputus Dengan CintaMu Yang Maha Qudus
Teriring senandung Ramadhan yang begitu menyentuh qalbu….Sudahkah kau paham apa arti cinta?. Beruntunglah orang–orang yang mempunyai cita-cita, ambisi atau-pun pengharapan yang tinggi dalam hidupnya. Karena itu adalah buah dari Cinta! dan dengannya-lah manusia bergerak untuk makna sebuah hidup. Tapi sudahkah kita pahami apakah makna dibalik gerak itu? Sudahkah kita pahami kemanakah cita-cita, ambisi, dan pengharapan yang tinggi itu seharusnya diarahkan? Adakah kekuatan disana? Adakah pelajaran yang teramat dalam disana?. Aku-pun belum begitu paham untuk memaparkannya. Karena memang hidup tak sekedar hitam diatas putih. Tapi perlahan kupelajari, bahwa harusnya semua itu adalah karena energi cinta yang begitu agung, begitu suci, begitu penuh pesona!. Hingga membuat segala sesuatu yang hampa menjadi penuh nuansa. Kita-pun sama-sama tahu bahwa hidup kita takkan abadi, kita-pun tahu betul bahwa kita selalu kehausan akan amal, bahkan kita-pun merasa belum yakin akan kebaikan kita tatkala Israil kian dekat mendekap. Tapi anehnya dunia ini terlalu menyibukkan rasa dan pikiran kita untuk lebih peduli dan lebih dalam mengetahuinya dari pada untuk lebih peduli dan lebih dalam merenungi masalah ukhrawi tersebut. Hingga yang sering muncul adalah rasa cinta terhadap dunia.
“Begitulah Allah dengan 99 AsmaNya. Ia tetap mencintai kita meski kita lupa untuk mencintaiNya”
Cita-cita, ambisi ataupun pengharapan yang tinggi akan kerajaan dunia membuat kita lalai akan kerajaan kita di syurga. Andaikan dihati kita ada cinta untuk-Nya, mungkin saja masih terbatas karena hanya mengharap nikmat syurga, takut dengan siksa neraka atau mengharap pertolongan-Nya agar hidup di dunia selalu dalam kemudahan& kebahagiaan. Mungkin itu bukan pengharapan yang salah! akan tetapi itu belum-lah menjadi sebuah hakikat cinta pada dan karena Allah yang sesungguhnya. Dan pastinya ia harus belajar, belajar dan belajar lagi akan arti dan tujuan hidup ini. Andai dalam hati itu ada sebenar cinta maka yang menjadi cita-cita, ambisi atau pengharapan tertinggi itu seharusnya adalah Perjumpaan dengan wajahNya dan bersua denganNya tanpa sehelai hijabpun yang menghalanginya.
“Jika Syurga Itu Tiada Masihkah Engkau Setia dan Ikhlas Menghamba Pada-Nya? “
Dunia yang kian panas, kian riuh, kian sesak, kian tercemar, kian bising membuat susah hati untuk khusyuk mengingatNya, kecuali jika kita melarikan hati dan pikiran menuju kesunyian dan kelezatan muhasabah.
Ar-Rahman… Sungguh asma yang teramat indah! apalagi jika kita telah dalam melihat aplikasi asma itu dalam kehidupan kita. Begitu pemurahnya Ia hingga benar-lah bahwa Ia adalah Sang Maha Pemurah, Ia memberi begitu banyak limpahan nikmat pada hamba-hambaNya, sekalipun mereka adalah jahat ataupun kafir. Karena dunia ini bagi-Nya tak lebih mahal harganya daripada sayap seekor nyamuk. Astaqfirullah…! betapa tertipunya kita selama ini, tapi tetap saja kita berlayar dan bahkan berlabuh dibahtera kehinaan itu.
“Berapa Lama Lagi Kita Menjauh Dari Pelabuhan Cinta-Nya?”
Lihatlah! betapa tak berharganya semesta yang begitu megah terpandang mata. Masih saja tiap perbuatan kita ini hanya sebatas pemuasan ego dan ambisi yang buta. Sudahkah ambisi kita akan sekolah, kuliah itu agar Ia Ridho? Atau sekedar agar kita cerdas atau dikatakan memiliki prestise tinggi?, sudahkah ambisi kita untuk pusing, sibuk, bahkan tak jarang murung dalam keletihan menjemput maisyah itu agar Allah Tersenyum? Atau sekedar kebanggaan dan arena penumpukan harta untuk 7 turunan kita mendatang?, sudahkah ambisi kita untuk menikah itu agar cinta kita pada Allah semakin membaja? Atau malah kita membuatNya cemburu karena sibuknya dan terlalu asyiknya kita dengan nafsu yang telah tersalurkan meskipun pada sesuatu yang halal?, sudahkan ambisi kita untuk menaklukkan dunia ini agar Allah semakin sayang? Atau justeru kita terlalu terlelap dalam tarian dunia hingga kita terlupa untuk segera menaiki kereta menuju pulang kepadaNya?.... Hanya hatimu yang mampu berkisah!
“Sepertinya kita masih terlalu cinta dengan dunia dan lebih mendengar apa kata dunia dari pada cinta dan mendengar apa kata Allah…”
Lihat Saja…
Andai ada telpon atau sms yang masuk ke Hp, kita berlari begitu cepatnya untuk mengangkat atau membukanya, lebih cepat dari kilatan petir mungkin!. Padahal saat adzan berkumandang, kita masih saja terdiam dan mengatakan “ kok cepet banget sih sudah adzan bla..bla..”. tanpa ada gerakan untuk bergegas mengambil air wudhu.
Lihat Saja…
Andai Berkas lamaran kerja kita ada yang kurang, mati-matian kita melengkapinya meskipun akan menguras seluruh isi kantong kita, atau andai pulsa kita sudah habis, mati-matian kita cari duit bahkan tak segan pinjam hanya untuk membeli pulsa seharga 10, 20 atau 100 ribu…it’s Ok!. Padahal jika ada kotak infaq didepan kita, untuk mengeluarkan uang 1000 saja merasa sudah banyak, atau masih paaanjang itung-itungnya untuk masukin uang 5000 ke kotak infaq itu. Padahal Allah tak bernah berhitung dengan nikmat yang Ia berikan pada hambaNya, sebagai contoh…dengarkan desahan nafasmu, adakah Allah memberi harga padanya? Andai ada harganya mungkin kita takkan bernafas lagi.
Lihat Saja…
Andai kita sedang berbincang, semua hal kita ungkapkan dengan ringan dan begitu mudah bahkan pada hal yang tak menjadi tema-pun diungkapkan. Tapi kita sangat berat dan susahnya minta ampun untuk mengawali hari dengan sekedar membaca basmallah atau berucap hamdallah akan segala sesuatunya yang telah kita lewatkan, hingga hari esok-pun masih sempat kita jelang.
Lihat Saja…
Andai begitu banyak lowongan kerja, ributnya Masya Allah untuk melamar, antri panjang luar biasa tetap tak jadi soal. Semua tetap di upayakan dengan gigih dan penuh gairah. Tapi kita tak sadar padahal di sisi kita ada lowongan di syurga dan di neraka. Dan kita terlupa untuk mempersiapkan lamaran kesana, bahkan tak terpikir lagi syurga atau neraka yang menjadi tempat terbaik! kita letih dengan Qiyamul lail, kita malas untuk menunaikan dhuha, kita tak begairah untuk membaca dan memahami ayat-ayat cintaNya, pelitnya minta ampun bersedekah, kita gelisah dengan kajian yang tak kunjung usai, kita tertekan dengan nasihat-nasihat bijak yang harusnya dapat menyadarkan kerdil dan lalainya kita, Sungguh! kita tak bergegas untuk itu semua.
Lihat Saja…
Andai Bos kita menyuruh kita menunaikan sebuah amanah, dengan kekuatan ekstra kita tunaikan, bahkan sebelum deadline tetap diupayakan untuk segera selesai. Tapi lihatlah ketika Allah menyeru kita pada jalan-Nya, adakalanya dengan sengaja kita pura-pura tak mendengar atau acuh mengabaikannya& tak jarang menghianatiNya.
Lihat Saja…
Andai uijan semesteran tiba, luarbiasanya kita pinjam catatan kesana-kemari, antri copya-an, belajar sks demi sebuah nilai yang baik atau paling tidak ya “lumayan-lah”. Tapi lihatlah betapa terlenanya kita hingga tak sempat belajar agar kelak kita bisa menjawab dengan baik pertanyaan malaikat kubur
“Lihat saja….lihat saja…lihat saja apa saja yang bisa kau lihat…hingga apa saja yang kau lihat itu akan mampu berbicara padamu kelak”
Hidup ini bukanlah tempat mengeluh akan akibat dari sebuah peristiwa. Karena di sini bukan tempat untuk sebuah hasil tapi tempat bagi proses…ya! proses perjuangan!. Hidup bukan perkara tertawa atau menangis karena hidup bukan perkara bahagia atau sedih tapi hidup adalah perkara pembuktian… ya! pembuktian kesetiaan kita sebagai hamba tanpa peduli Sang Tuan akan memberi kita rasa atau peristiwa apa?!. Karena sejatinya cinta, tak melihat pengorbanan sebagai pengorbanan lagi tapi ia melihat pengorbanan itu sebagai pembuktian!!. Pembuktian Cinta yang Qudus…
“Dunia akan semakin kencang berlari ketika kita mengejarnya. Karena Dunia hanya bisa dikejar jika kita telah berhasil mengejar akhirat, sudahkah kita???
Oleh karena itu jangan bersedih andai tak kau dapatkan apa-apa dari dunia ini selain kehinaan dan keletihan yang teramat jika akhirat telah begitu jauh dalam rengkuhan
Karena Dunia di singgahi setelah Akhirat di diami…”
Presented By Ababil Al-Adawiyah /24 Ramadhan 1429H
Heny EbtaSari 03
Rabu, 23 Juli 2008
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Untuk para pejuang dakwah di Fakultas Hukum UNS, yang selalu Istiqomah di jalan kebenaran...
semoga hadirnya blog ikapfos08-fh-uns.blogspot.com menambah hangatnya ukhuwwah yang sudah lama tidak mengharu birukan di relung hari kita...
Selamat menjalin komunikasi di forum Alumni FOSMI FH UNS. Semoga bermanfaat...!
Allahu Akbar...!